Belajar dari pengalaman tentunya banyak sekali pelajaran
yang dapat kita ambil. Hal tersebut membuat saya tertarik untuk membuat cerpen
dari pengalaman sendiri. Selamat membaca..
RASA
YANG TERTINGGAL
Oleh
: Veli
Waktu telah bergulir dengan
cepatnya. Siang berganti malam dan begitu seterusnya. Sudah tak terasa hampir
tiga tahun lamanya menginjakkan kaki di SMPN 1 Cipaku, sampai dekat dengan
detik- detik ujian nasional. Semua murid belajar dengan giat untuk
menghadapinya, salah satunya yaitu keempat orang siswi yang biasa disebut V3YA (V-ThreeYa). Mereka adalah Vani, Vina,
Viola, dan Yasmin. Vani dan Vina adalah saudara kembar yang cukup berprestasi
di sekolahnya, tentu juga kedua temannya. Mereka merupakan orang-orang yang
berprestasi sehingga mudah dikenal oleh teman-temannya. Vina berprestai di
bidang bahasa inggris, sedangkan Viola di bidang bahasa Indonesia. Mereka lebih
menyukai sastra daripada eksakta. Disisi lain Vani lebih berprestasi di bidang
IPA sedangkan Yasmin di bidang matematika. Mereka lebih menyukai ilmu eksakta
(ilmu pasti).
Mereka telah menjalin persahabatan
sejak kelas satu SMP dan sampai sekarang persahabatan tersebut masih terjalin.
Sampai-sampai sebelum menghadapi ujian nasional mereka selalu belajar bersama
karena semua pelajaran yang di ujiankan dikuasai oleh mereka berempat. Mereka
selalu berbagi, saling bertanya, dan bertukar pikiran untuk menghadapi ujian
nasional.
Disela jam istirahat mereka selalu
berkumpul bersama di perpustakaan untuk belajar bersama.
“
Yasmin, ajarin aku dong. Susah banget belajar matematika.” Pinta Viola.
“
Iya aku ajarin, asalkan bisa barter.” Jawab Yasmin.
“
Ajarin aku juga dong.” Ucap Vina dan Vani sambil meghampiri mereka berdua.
“ Iya tentu. Kita kan harus saling berbagi.
Pokoknya kita harus berjuang. Semoga di empat hari yang akan datang kita diberi
kesehatan, kelancaran, dan kelapangan oleh Allah swt.” Ucap Yasmin.
“
Iya, Aamiin” jawab mereka serempak.
“Pokoknya
kita harus sukses UN bersama” kata Vina.
Mereka
semakin bersemangat untuk menghadapi ujian nasional. Walaupun rasa takut
menghantui tapi mereka selalu yakin dengan kemampuannya dan tentunya semangat
dari sahabat-sahabatnyalah yang mampu membangkitkannya.
Hari-hari ujian telah dilalui dengan
sukses. Sebelumnya sudah banyak siswa yang mendaftar untuk melanjutkan sekolah
ke jenjang yang lebih tinggi. Namun Vani dan Vina belum menentukan pilihannya.
Setiap ditanya mereka selalu menjawab “ Entahlah masih bingung. Antara
diterusin atau tidak.” Maklumlah mereka kasihan kepada orang tuanya karena
segala sesuatu harus berlipat ganda dengan kondisi ekonomi yang serba cukup membuat
mereka bimbang dengan pertanyaan yang selalu diajukan oleh guru-gurunya.
Hal tersebut membuat banyak guru
prihatin kepada mereka. Bahkan berita tersebut sampai pada guru-guru BK
(Bimbingan Konseling) sehingga mereka dipanggil ke ruang BK setelah jam
pelajaran berakhir.
Sulit untuk dijelaskan, seolah-olah
pikiran mereka terasa kacau, sulit juga untuk menjawab dan mengungkapkan kata.
Binar-binar air mata mulai muncul dan menetes di atas rok birunya. Semua guru
BK mulai menghampirinya.
“
Sudah coba ditanya orang tua kalian?” Tanya Bu Sri. “ Sayang lho kalau ga
diterusin.” lanjutnya.
“
Sudah dicoba tapi tetap saja hasilnya nihil.” Jawab Vina.
“
Kan rumah kalian dekat dengan SMKN 1 Cipaku, coba saja ikut daftar kesana atau
ke SMAN 1 Baregbeg, masalah biayanya juga bisa terjangkau kalau disana.” ucap
guru yang lain.
Mereka
bingung dengan pilihan yang diajukan guru-gurunya. Ditambah lagi saran dari
guru yang lain untuk mencoba daftar ke SMA Plus Cisarua di kabupaten Bandung
Barat dan kebetulan Yasmin juga disarankan untuk masuk kesana.
Sekolah tersebut hanya untuk siswa-siswi
yatim/piatu/yatim piatu ataupun bagi yang kurang mampu tapi harus yang
berprestasi. Berhubung Yasmin berprestasi ia pun menyarankan kepada gurunya untuk
mengajak si kembar, Vani dan Vina karena
Yasmin yakin dengan kemampuan yang mereka miliki.
Akhirnya mereka mencoba mendaftar
kesana. Segala persyaratan telah dipenuhi, tinggal menunggu hasilnya. Apakah
ada panggilan untuk seleksi tahap kedua atau tidak.
Hari Jum’at tepatnya, suara ponsel
ibunya Yasmin berbunyi. Kaget dan bangga tengah dirasakanya.
“
Yasmin…Yasmin…” suara ibuya memanggil.
“
Ada apa bu?” sampai teriak-teriak begitu.” Tanya yasmin.
Ibunya
menjelaskan bahwa Yasmin mendapat panggilan ke Cisarua untuk melaksanakan
seleksi tahap kedua.
Beberapa jam kemudian panggilan tersebut
juga datang kepada Vina, tapi hanya dia saja tidak dengan saudara kembarnya.
“mungkin karena kapasitas untuk putri hanya 50 orang untuk melaksanakan
seleksi.” Jelas Vina.
Dua hari kemudian Vina dan Yasmin berangkat
kesana ditemani oleh guru pembimbingnya. Karena harus melaksanakan seleksi selama
tiga hari akhirnya mereka ditinggal gurunya. Walaupun demikian mereka tetap
bersemangat karena disana Vina dan Yasmin mendapat banyak teman baru. Bayangkan
saja perwakilan seluruh kabupaten/kota di provinsi Jawa Barat bisa berkumpul
disana. Mereka berjumlah 150 orang yang terdiri dari 100 putra dan 50 putri.
Berbeda-bedanya sikap, karakter, bahkan bahasa tetapi tidak membuat Vina dan
Yasmin minder walaupun mereka berasal dari kampung.
Dihari pertama mereka belum mendapat
ujian tapi saat itu hanya diisi dengan upacara pembukaan dan beres-beres. Kebetulan
Vina dan Yasmin sekamar dengan Tri Puji, ia sama-sama dari kabupaten Ciamis
hanya saja dia pintar berbicara bahasa jawa. Mereka juga sekamar dengan Yuli
dari kabupaten Bandung Barat dan juga Feby dari kota Bandung. Mereka sangat
akrab walaupun baru pertama bertemu sehingga mereka sudah dapat melihat
karakter dari masing-masing siswi tersebut.
Waktu memang cepat berlalu.
Pelaksanaan ujian telah dilaksanakan dengan semaksimal mungkin, mulai dari tes
akademik, tes kesehatan dan tes wawancara. Hari-hari telah dilalui dengan penuh
keceriaan, sampai tak terasa besok adalah hari kepulangan tapi mereka masih
tetap ingin berkumpul bersama.
Disore hari yang cerah semua peserta
melaksanakan olahraga bersama, kebersamaan mereka semakin menjadi setelah
dikumpulkan di plaza (taman yang indah di belakang ruang makan). Sebuah pengumuman
disampaikan saat itu.
”
Malam nanti akan dilaksanakan pentas seni dan diwajibkan kepada setiap
kontingen untuk menampilkan kreasi seninya.” Ucap salah satu kakak panitia.
Semua
peserta segera berkumpul mencari kontigennya masing-masing. Untuk kontingen
Ciamis hanya berjumlah 12 orang.
“
Mana lagi putrinya? Masa hanya bertiga.” Tanya salah satu pria.
“
Memang cuma ada tiga orang.” Jawab Vina singkat.
“
Okelah, karena semua sudah berkumpul kita mulai saja dengan perkenalan terlebih
dahulu.” Ucap pria tersebut. “ Kan kata pepatah tak kenal maka tak sayang”
lanjutnya.
Perkenalan diawali oleh pria tersebut dan ternyata
pria itu bernama Ihsan. Setelah dia kemudian satu per satu mulai memperkenalkan diri dan menyatakan asal
sekolahnya. Setelah selesai mereka pun mulai membahas pokok persoalan yang
sebenarnya.
“
Mau menampilkan apa dari kami?” Tanya Ihsan.
Berbagai
usulan mulai dilontarkan oleh semuanya.
“
Kalau nyanyi lagu daerah Jawa Barat gimana?” Ucap Puji menyampaikan
pendapatnya.
“
Kalau mau nyanyi mendingan lagu Ciamis Manis aja, kita kan dari Ciamis. Kalau
lagu daerah semuanya juga pasti tahu.” Jawab Yasmin.
“
Bener juga tuh.” Jawab Ihsan.
Akhirnya
mereka memutuskan untuk bernyanyi di pentas seni nanti.
Acara malam pensi pun tiba,
kehangatan mulai terasa karena seluruh peserta dikumpulkan dalam satu ruangan.
Berbagai kreasi seni telah ditampilkan mulai dari bernyanyi, drama, membaca puisi,
dan menampilkan kesenian seperti cianjuran dan sebagainya. Keharuan mulai
terasa setelah seluruh panitia menampilkan kreasi seni. Mereka menyanyikan sebuah lagu yang berjudul
Perpisahan Termanis. “Memang benar perpisahan termanis” gumam Vina di dalam hatinya.
Malam semakin larut, acara pun berakhir dengan suka cita.
“Besok
adalah keputusannya.” Ucap Yuli.
“
Iya, mudah-mudahan aja masuk seleksi dan ini bukan menjadi akhir dari pertemuan
kita.” Jelas Yasmin.
Sebelumnya
puji sudah mengetahui keputusannya karena saat tes wawancara ia bilang tidak
mau sekolah disana, ikut seleksi saja itu karena gurunya bukan karena
keinginannya. “ Ini bisa jadi kenangan untuk aku dan kita tentunya.” Kata Puji.
“
Iya. Diterima atau tidaknya itu sudah menjadi keputusan yang terbaik.” Jelas
Vina.
Mentari telah datang menyambut kedinginan
dipagi hari. Semua peserta antusias untuk menerima hasilnya. Setelah upacara
penutupan semua peserta diberi surat keputusan diterima atau tidaknya di SMA
Plus Cisarua.
Vina dan Yasmin tidak sempat bertemu
lagi dengan Yuli karena setelah upacara berakhir dia segera pulang sebab sudah
dijemput oleh ibunya. Kebetulan rumahnya lumayan dekat dengan tempat seleksi.
“
Vin, kita pulang gimana?” Tanya Yasmin.
“
Gak tau nih, coba tanya kakak panitianya aja.” Jawabnya.
Berhubung
tidak ada kakak panitia yang berasal dari Ciamis akhirnya mereka pulang berdua.
Tapi tiba-tiba Ihsah menghampiri mereka berdua.
“
Vin, pulang berdua?” ucapnya.
“
Iya nih tapi bingung, soalnya baru pertama kali kesini. Takut juga sih pulang
berdua, jarak Bandung-Ciamis kan jauh.” Jawab Vina.
“
Ikut aku aja yu? Berhubung guru aku mau jemput, kita kan sama-sama satu
jurusan.” Jelas Ihsan.
“
Bener juga tuh, mumpung ada tumpangan gratis.” Kata Yasmin yang berbisik pada
Vina. “ Dari pada kita nyasar.” Lanjutnya.
“
Emm… iya deh, tapi gak ngerepotinkan?” kata Vina.
“
Tidak sama sekali, tenang aja.” Jawabnya.
Semenjak itu hubungan Vina dan Ihsan
semakin dekat. Setiap hari Ihsan selalu menghubungi Vina karena sebelumnya
Ihsan sudah meminta nomor ponselnya saat pulang dari Cisarua. Sejak saat itu
pula diam-daim Vina mulai menyimpan perasaan pada Ihsan begitu juga dengan
Ihsan. Tapi karena Ihsan diterima di Cisarua sedangkan Vina tidak akhirnya komunikasi
mereka terputus sebelum perasaan mereka tersampaikan karena disana dilarang
untuk membawa barang-barang elektronik.
Vina hanya bisa melanjutkan sekolah
di daerahnya bersama saudara kembarnya, Vani. Mereka melanjutkan sekolah ke
SMAN 1 Baregbeg, sesuai dengan saran dari guru-gurunya dulu. Padahal dalam
hatinya Vina ingin satu sekolah dengan Ihsan tapi takdir telah memisahkan
mereka berdua. Berhubung malah Yasmin yang satu sekolah dengan Ihsan karena dia
juga diterima disana akhirnya setiap Yasmin pulang ke Ciamis Vina selalu
menghubunginya.
“
Yas, gimana kabarnya? Sehatkan?” Tanya Vina.
“
Alhamdulillah.” Jawabnya singkat.
“
Kalau Ihsan gimana? Sehat juga kan?” tanya Vina lagi.
“
Ihsan juga sehat. Ada apa nih sampai-sampai nanyain Ihsan juga, kirain udah
lupa.” Ucap Yasmin.
“Ihsan
kan temen aku juga.” Jawab Vina. “ Sebenarnya…” Tut..tut..tut.. Belum sempat
melanjutkan pembicaraannya ternyata handphonenya mati.
“
Ya ampun, mati lagi. Gimana mau tanya soal Ihsan, salah satu jalan menuju dia
kan Cuma ini.” Katanya sambil memandang handphonenya serasa putus harapan.
Sehari kemudian Vina berniat untuk
menjumpai Yasmin ke rumahnya sambil melepas kerinduannya karena semenjak dia
tinggal di Cisarua Vina jarang
berkomunikasi dengannya.
“
Yasmin, ada di rumah?” Tanya Vina seraya memanggilnya.
“
Iya ada. Sini masuk.” Jawabnya.
Sambil
melepas rindu dengan sahabatnya, mereka saling bertukar cerita. Namun disela
pembicaraannya lagi-lagi Vina bertanya soal Ihsan.
“
Yas, mau cerita nih. Bolehkan?” Pinta Vina.
“
Ya bolehlah, apa sih yang engga. Pasti soal Ihsan kan?” filling sahabatnya.
Suasana hening sejenak. Sambil
tersipu malu Vina menjelaskan tentang perasaannya bahwa semenjak pertama kali
Vina bertemu dengan Ihsan di Cisarua ia sudah suka pada Ihsan dan sudah
menyimpan perasaannya dari dulu.
“
Kalau kamu suka sama Ihsan tenang aja, nanti aku bilangin deh.” Ucap Yasmin.
“
Eh, jangan dong.” Jawab Vina dengan singkat.
“
Lho kenapa? Kamu kan suka sama Ihsan.” Jelas Yasmin.
“
Ya, tapi takutnya kalau dibilangin pasti dia jauhin aku deh. Bisa-bisa dia juga
sebel sama aku.” Jawab Vina. “Pokoknya jangan dibilangin yah. Bisa-bisa malah mengganggu
konsentrasi belajarnya disana.” Lanjutnya. “ Tak apalah aku menyimpan perasaan
ini sendirian.” Ucapnya pelan.
“
Apa?” Tanya Yasmin karena kurang mendengar ucapan Vina tadi.
“
Engga kok. Udah lanjutin cerita Yasmin aja. Tidak pentinglah cerita aku mah.”
Lanjut Vina.
Mereka
pun melanjutkan kembali bercerita tentang pengalaman Yasmin selama di Cisarua.
Mungkin pertemuan
Vina dan Ihsan dulu hanya menjadi sebuah kenangan. Walaupun sampai saat ini ia
masih menyimpan perasaanya. Perasaan Vina hanya bisa dipendam dalam hatinya
menjadi sebuah rasa yang tertiggal karena entah kapan lagi Vina bisa bertemu
dengannya .Tapi Vina yakin jika ia berjodoh dengan Ihsan pasti suatu saat Vina
akan berjumpa kembali dengan sang pujaan hatinya.