Kamis, 26 November 2015

lyric dan cord gitar lagu Kun Anta



Kun Anta - Mimi Nazrina

G                          D
Liujar bihim, qoladtuzohiruma fihim
                   Em               C
Fabadautu syahso akhor, kai atafa khor
      G                           D  
Wa zonantu ana, anni bizalika khustu ghina (rina)
                  Em                C
Fawajadtu anni khosir, fatilkha mazohir

[CHORUS]

G                    D
La la.. la nakhtajul mala
               Em
Kai nazdada jamala
           C
Jauharna huna, fil qolbi talala

G                    D
La la… nurdhi nasa bimala
                Em
Nardho hulana hala
           C
Zaka jamaluna, yasmu yata’ala

[POST-CHORUS]

G
Oh Wo Oh, Oh Wo Oooh
D
Oh Wo Oh, Oh Wo Oooh
Em
Oh Wo Oh, Oh Wo Oooh
C
.....Kun anta tazdad jamala

G
Oh Wo Oh, Oh Wo Oooh
D
Oh Wo Oh, Oh Wo Oooh
Em
Oh Wo Oh, Oh Wo Oooh
C
.....Kun anta tazdad jamala

G D Em C
Lalalala..

G                               D
Ataqobbalahum, annasu lastu qolliduhum
                Em          C
Illa bima yardhini, kai urdhini
    G                         D
Saakunu ana, mithli  tamama haza ana
                Em              C
Faqona a’ti takhfini, zakha yaqini

[CHORUS]

G                    D
La la.. la nakhtajul mala
               Em
Kai nazdada jamala
           C
Jauharna huna, fil qolbi talala

G                    D
La la… nurdhi nasa bimala
                Em
Nardho hulana hala
           C
Zaka jamaluna, yasmu yata’ala

[POST-CHORUS]

G
Oh Wo Oh, Oh Wo Oooh
D
Oh Wo Oh, Oh Wo Oooh
Em
Oh Wo Oh, Oh Wo Oooh
C
.....Kun anta tazdad jamala
www.maingitardulu.com
G
Oh Wo Oh, Oh Wo Oooh
D
Oh Wo Oh, Oh Wo Oooh
Em
Oh Wo Oh, Oh Wo Oooh
C

[BRIDGE]

   Am
Saakunu ana
      C
Man ardho ana
     G          D
Lan as a’la liridhohum

   Am
Waakunu ana
    C
Ma ahwa ana
   G          D
Mali wama liridhohum

   Am
Saakunu ana
      C
Man ardho ana
     G          D
Lan as a’la liridhohum

   Am
Waakunu ana
    C
Ma ahwa ana
   G          D
Mali wama liridhohum

[CHORUS]

G                    D
La la.. la nakhtajul mala
               Em
Kai nazdada jamala
           C
Jauharna huna, fil qolbi talala

G                    D
La la… nurdhi nasa bimala
                Em
Nardho hulana hala
           C
Zaka jamaluna, yasmu yata’ala

[POST-CHORUS]

G
Oh Wo Oh, Oh Wo Oooh
D
Oh Wo Oh, Oh Wo Oooh
Em
Oh Wo Oh, Oh Wo Oooh
C
.....Kun anta tazdad jamala

G
Oh Wo Oh, Oh Wo Oooh
D
Oh Wo Oh, Oh Wo Oooh
Em
Oh Wo Oh, Oh Wo Oooh
C
.....Kun anta tazdad jamala 

Kamis, 19 November 2015

Narrative text



Two Frogs
Two frogs were friends. Older Frog lived in a well and Younger  Frog  lived in a big lake. One day when they happened to meet, Older Frog said, “Younger Brother, let’s go to my home today!” and Younger Frog agreed. When they reached the well where Older Frog lived, Younger Frog felt uncomfortable because the well didn’t have much water, the water was dirty, and he could not see the sky. Coming in and out of the well was not easy either. But didn’t leave quickly because he didn’t want to hurt Older Frog’s feelings.
Younger Frog was uncomfortable and jumped up and down. Older Frog noticed this and thought Younger Frog was admiring his home. “how is my home?” he asked.
Younger Frog smiled and said, “What can I say.?”
Older Frog proudly said, “The water in my home is the best in the world.”
Younger Frog replied, “I don’t think so.”
Older Frog was not happy with this answer, the two frogs began arguing, and finally Younger Frog said he wanted to leave.
Older Frog said, “Please take some water from hear.”
“No. My home has enough water,” said Younger Frog.
“I want to see your home,” said Older Frog and the two set off for the lake where Younger Frog lived.
Older Frog was feeling proud and arrogant. He thought, “When I reach his home, I will drink all his water. Then he will ask me for my water to drink.”
When they reached the lake, Younger Frog said, “Dear Older Frog, we are very near my home.” Older Frog didn’t look out across the vast lake. Instead, he only noticed some water in front of  him. He stuck his head into the water and began drinking. Althoungh his stomach was soon full, he had not reduced the size of  Younger Frog’s home. He thought for a moment but then decided to drink some more. His stomach became bigger and bigger. Suddenly there was a “ping” sound as his stomach burst and he died.

Kamis, 12 November 2015

Narrative text



It was a summer day. It was a very hot day. Everybody was suffering from the heal. Everybody was very thirsty. But it’s hard to find water. The river and the spring were dry.
A tired lion was walking weakly. He walked everywhere to find water. “If  I can not to find water soon, I’m going to die,” the lion thought.
Not far from the lion, there was a goat. He was thirsty too. As they walked they came to a small fountain. How happy they were.
“Hey, stay away from my fountain !” snapped the lion.
“Your fountain ? It’s mine !” the goat snapped back.
“I got here first !” said the lion.
“No ! It was I who got here first,” replied the goat.
They began to fight over the fountain.
Finally they got tired of  fight. So, they took a rest. When, they look up, they saw a flock of vultures above them. Vultures ate dead bodies.
“Hey, do you see the vultures ?” asked the lion.
“Yes, I think they are waiting to see who is going to die. What do you think ?” said the goat.
“Let’s stop this fight. We’d better  make friend.”said the lion.
“Yes, it’s  much better to make friend than to make an enemy.” replied the goat.

Then they drank from the same fountain.

Kamis, 05 November 2015

cepen (pengalaman)


Belajar dari pengalaman tentunya banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil. Hal tersebut membuat saya tertarik untuk membuat cerpen dari pengalaman sendiri. Selamat membaca..

RASA YANG TERTINGGAL

Oleh : Veli
            Waktu telah bergulir dengan cepatnya. Siang berganti malam dan begitu seterusnya. Sudah tak terasa hampir tiga tahun lamanya menginjakkan kaki di SMPN 1 Cipaku, sampai dekat dengan detik- detik ujian nasional. Semua murid belajar dengan giat untuk menghadapinya, salah satunya yaitu keempat orang siswi yang biasa disebut  V3YA (V-ThreeYa). Mereka adalah Vani, Vina, Viola, dan Yasmin. Vani dan Vina adalah saudara kembar yang cukup berprestasi di sekolahnya, tentu juga kedua temannya. Mereka merupakan orang-orang yang berprestasi sehingga mudah dikenal oleh teman-temannya. Vina berprestai di bidang bahasa inggris, sedangkan Viola di bidang bahasa Indonesia. Mereka lebih menyukai sastra daripada eksakta. Disisi lain Vani lebih berprestasi di bidang IPA sedangkan Yasmin di bidang matematika. Mereka lebih menyukai ilmu eksakta (ilmu pasti).
            Mereka telah menjalin persahabatan sejak kelas satu SMP dan sampai sekarang persahabatan tersebut masih terjalin. Sampai-sampai sebelum menghadapi ujian nasional mereka selalu belajar bersama karena semua pelajaran yang di ujiankan dikuasai oleh mereka berempat. Mereka selalu berbagi, saling bertanya, dan bertukar pikiran untuk menghadapi ujian nasional.
            Disela jam istirahat mereka selalu berkumpul bersama di perpustakaan untuk belajar bersama.
“ Yasmin, ajarin aku dong. Susah banget belajar matematika.” Pinta  Viola.
“ Iya aku ajarin, asalkan bisa barter.” Jawab Yasmin.
“ Ajarin aku juga dong.” Ucap Vina dan Vani sambil meghampiri mereka berdua.
  Iya tentu. Kita kan harus saling berbagi. Pokoknya kita harus berjuang. Semoga di empat hari yang akan datang kita diberi kesehatan, kelancaran, dan kelapangan oleh Allah swt.” Ucap Yasmin.
“ Iya, Aamiin” jawab mereka serempak.
“Pokoknya kita harus sukses UN bersama” kata Vina.
Mereka semakin bersemangat untuk menghadapi ujian nasional. Walaupun rasa takut menghantui tapi mereka selalu yakin dengan kemampuannya dan tentunya semangat dari sahabat-sahabatnyalah yang mampu membangkitkannya.
            Hari-hari ujian telah dilalui dengan sukses. Sebelumnya sudah banyak siswa yang mendaftar untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Namun Vani dan Vina belum menentukan pilihannya. Setiap ditanya mereka selalu menjawab “ Entahlah masih bingung. Antara diterusin atau tidak.” Maklumlah mereka kasihan kepada orang tuanya karena segala sesuatu harus berlipat ganda dengan kondisi ekonomi yang serba cukup membuat mereka bimbang dengan pertanyaan yang selalu diajukan oleh guru-gurunya.
            Hal tersebut membuat banyak guru prihatin kepada mereka. Bahkan berita tersebut sampai pada guru-guru BK (Bimbingan Konseling) sehingga mereka dipanggil ke ruang BK setelah jam pelajaran berakhir.
            Sulit untuk dijelaskan, seolah-olah pikiran mereka terasa kacau, sulit juga untuk menjawab dan mengungkapkan kata. Binar-binar air mata mulai muncul dan menetes di atas rok birunya. Semua guru BK mulai menghampirinya.
“ Sudah coba ditanya orang tua kalian?” Tanya Bu Sri. “ Sayang lho kalau ga diterusin.” lanjutnya.
“ Sudah dicoba tapi tetap saja hasilnya nihil.” Jawab Vina.
“ Kan rumah kalian dekat dengan SMKN 1 Cipaku, coba saja ikut daftar kesana atau ke SMAN 1 Baregbeg, masalah biayanya juga bisa terjangkau kalau disana.” ucap guru yang lain.
Mereka bingung dengan pilihan yang diajukan guru-gurunya. Ditambah lagi saran dari guru yang lain untuk mencoba daftar ke SMA Plus Cisarua di kabupaten Bandung Barat dan kebetulan Yasmin juga disarankan untuk masuk kesana.
            Sekolah tersebut hanya untuk siswa-siswi yatim/piatu/yatim piatu ataupun bagi yang kurang mampu tapi harus yang berprestasi. Berhubung Yasmin berprestasi ia pun menyarankan kepada gurunya untuk mengajak si kembar, Vani dan Vina  karena Yasmin yakin dengan kemampuan yang mereka miliki.
            Akhirnya mereka mencoba mendaftar kesana. Segala persyaratan telah dipenuhi, tinggal menunggu hasilnya. Apakah ada panggilan untuk seleksi tahap kedua atau tidak.
            Hari Jum’at tepatnya, suara ponsel ibunya Yasmin berbunyi. Kaget dan bangga tengah dirasakanya.
“ Yasmin…Yasmin…” suara ibuya memanggil.
“ Ada apa bu?” sampai teriak-teriak begitu.” Tanya yasmin.
Ibunya menjelaskan bahwa Yasmin mendapat panggilan ke Cisarua untuk melaksanakan seleksi tahap kedua.
            Beberapa jam kemudian panggilan tersebut juga datang kepada Vina, tapi hanya dia saja tidak dengan saudara kembarnya. “mungkin karena kapasitas untuk putri hanya 50 orang untuk melaksanakan seleksi.” Jelas Vina.
            Dua hari kemudian Vina dan Yasmin berangkat kesana ditemani oleh guru pembimbingnya. Karena harus melaksanakan seleksi selama tiga hari akhirnya mereka ditinggal gurunya. Walaupun demikian mereka tetap bersemangat karena disana Vina dan Yasmin mendapat banyak teman baru. Bayangkan saja perwakilan seluruh kabupaten/kota di provinsi Jawa Barat bisa berkumpul disana. Mereka berjumlah 150 orang yang terdiri dari 100 putra dan 50 putri. Berbeda-bedanya sikap, karakter, bahkan bahasa tetapi tidak membuat Vina dan Yasmin minder walaupun mereka berasal dari kampung.
            Dihari pertama mereka belum mendapat ujian tapi saat itu hanya diisi dengan upacara pembukaan dan beres-beres. Kebetulan Vina dan Yasmin sekamar dengan Tri Puji, ia sama-sama dari kabupaten Ciamis hanya saja dia pintar berbicara bahasa jawa. Mereka juga sekamar dengan Yuli dari kabupaten Bandung Barat dan juga Feby dari kota Bandung. Mereka sangat akrab walaupun baru pertama bertemu sehingga mereka sudah dapat melihat karakter dari masing-masing siswi tersebut.
            Waktu memang cepat berlalu. Pelaksanaan ujian telah dilaksanakan dengan semaksimal mungkin, mulai dari tes akademik, tes kesehatan dan tes wawancara. Hari-hari telah dilalui dengan penuh keceriaan, sampai tak terasa besok adalah hari kepulangan tapi mereka masih tetap ingin berkumpul bersama.
            Disore hari yang cerah semua peserta melaksanakan olahraga bersama, kebersamaan mereka semakin menjadi setelah dikumpulkan di plaza (taman yang indah di belakang ruang makan). Sebuah pengumuman disampaikan saat itu.
” Malam nanti akan dilaksanakan pentas seni dan diwajibkan kepada setiap kontingen untuk menampilkan kreasi seninya.” Ucap salah satu kakak panitia.
Semua peserta segera berkumpul mencari kontigennya masing-masing. Untuk kontingen Ciamis hanya berjumlah 12 orang.
“ Mana lagi putrinya? Masa hanya bertiga.” Tanya salah satu pria.
“ Memang cuma ada tiga orang.” Jawab Vina singkat.
“ Okelah, karena semua sudah berkumpul kita mulai saja dengan perkenalan terlebih dahulu.” Ucap pria tersebut. “ Kan kata pepatah tak kenal maka tak sayang” lanjutnya.
Perkenalan diawali oleh pria tersebut dan ternyata pria itu bernama Ihsan. Setelah dia kemudian satu per satu  mulai memperkenalkan diri dan menyatakan asal sekolahnya. Setelah selesai mereka pun mulai membahas pokok persoalan yang sebenarnya.
“ Mau menampilkan apa dari kami?” Tanya Ihsan.
Berbagai usulan mulai dilontarkan oleh semuanya.
“ Kalau nyanyi lagu daerah Jawa Barat gimana?” Ucap Puji menyampaikan pendapatnya.
“ Kalau mau nyanyi mendingan lagu Ciamis Manis aja, kita kan dari Ciamis. Kalau lagu daerah semuanya juga pasti tahu.” Jawab Yasmin.
“ Bener juga tuh.” Jawab Ihsan.
Akhirnya mereka memutuskan untuk bernyanyi di pentas seni nanti.
            Acara malam pensi pun tiba, kehangatan mulai terasa karena seluruh peserta dikumpulkan dalam satu ruangan. Berbagai kreasi seni telah ditampilkan mulai dari bernyanyi, drama, membaca puisi, dan menampilkan kesenian seperti cianjuran dan sebagainya. Keharuan mulai terasa setelah seluruh panitia menampilkan kreasi seni. Mereka  menyanyikan sebuah lagu yang berjudul Perpisahan Termanis. “Memang benar perpisahan termanis” gumam Vina di dalam hatinya.
            Malam semakin larut, acara  pun berakhir dengan suka cita.
“Besok adalah keputusannya.” Ucap Yuli.
“ Iya, mudah-mudahan aja masuk seleksi dan ini bukan menjadi akhir dari pertemuan kita.” Jelas Yasmin.
Sebelumnya puji sudah mengetahui keputusannya karena saat tes wawancara ia bilang tidak mau sekolah disana, ikut seleksi saja itu karena gurunya bukan karena keinginannya. “ Ini bisa jadi kenangan untuk aku dan kita tentunya.” Kata Puji.
“ Iya. Diterima atau tidaknya itu sudah menjadi keputusan yang terbaik.” Jelas Vina.
            Mentari telah datang menyambut kedinginan dipagi hari. Semua peserta antusias untuk menerima hasilnya. Setelah upacara penutupan semua peserta diberi surat keputusan diterima atau tidaknya di SMA Plus Cisarua.
            Vina dan Yasmin tidak sempat bertemu lagi dengan Yuli karena setelah upacara berakhir dia segera pulang sebab sudah dijemput oleh ibunya. Kebetulan rumahnya lumayan dekat dengan tempat seleksi.
“ Vin, kita pulang gimana?” Tanya Yasmin.
“ Gak tau nih, coba tanya kakak panitianya aja.” Jawabnya.
Berhubung tidak ada kakak panitia yang berasal dari Ciamis akhirnya mereka pulang berdua. Tapi tiba-tiba Ihsah menghampiri mereka berdua.
“ Vin, pulang berdua?” ucapnya.
“ Iya nih tapi bingung, soalnya baru pertama kali kesini. Takut juga sih pulang berdua, jarak Bandung-Ciamis kan jauh.” Jawab Vina.
“ Ikut aku aja yu? Berhubung guru aku mau jemput, kita kan sama-sama satu jurusan.” Jelas Ihsan.
“ Bener juga tuh, mumpung ada tumpangan gratis.” Kata Yasmin yang berbisik pada Vina. “ Dari pada kita nyasar.” Lanjutnya.
“ Emm… iya deh, tapi gak ngerepotinkan?” kata Vina.
“ Tidak sama sekali, tenang aja.” Jawabnya.
            Semenjak itu hubungan Vina dan Ihsan semakin dekat. Setiap hari Ihsan selalu menghubungi Vina karena sebelumnya Ihsan sudah meminta nomor ponselnya saat pulang dari Cisarua. Sejak saat itu pula diam-daim Vina mulai menyimpan perasaan pada Ihsan begitu juga dengan Ihsan. Tapi karena Ihsan diterima di Cisarua sedangkan Vina tidak akhirnya komunikasi mereka terputus sebelum perasaan mereka tersampaikan karena disana dilarang untuk membawa barang-barang elektronik.
            Vina hanya bisa melanjutkan sekolah di daerahnya bersama saudara kembarnya, Vani. Mereka melanjutkan sekolah ke SMAN 1 Baregbeg, sesuai dengan saran dari guru-gurunya dulu. Padahal dalam hatinya Vina ingin satu sekolah dengan Ihsan tapi takdir telah memisahkan mereka berdua. Berhubung malah Yasmin yang satu sekolah dengan Ihsan karena dia juga diterima disana akhirnya setiap Yasmin pulang ke Ciamis Vina selalu menghubunginya.
“ Yas, gimana kabarnya? Sehatkan?” Tanya Vina.
“ Alhamdulillah.” Jawabnya singkat.
“ Kalau Ihsan gimana? Sehat juga kan?” tanya Vina lagi.
“ Ihsan juga sehat. Ada apa nih sampai-sampai nanyain Ihsan juga, kirain udah lupa.” Ucap Yasmin.
“Ihsan kan temen aku juga.” Jawab Vina. “ Sebenarnya…” Tut..tut..tut.. Belum sempat melanjutkan pembicaraannya ternyata handphonenya mati.
“ Ya ampun, mati lagi. Gimana mau tanya soal Ihsan, salah satu jalan menuju dia kan Cuma ini.” Katanya sambil memandang handphonenya serasa putus harapan.
            Sehari kemudian Vina berniat untuk menjumpai Yasmin ke rumahnya sambil melepas kerinduannya karena semenjak dia tinggal di Cisarua Vina  jarang berkomunikasi dengannya.
“ Yasmin, ada di rumah?” Tanya Vina seraya memanggilnya.
“ Iya ada. Sini masuk.” Jawabnya.
Sambil melepas rindu dengan sahabatnya, mereka saling bertukar cerita. Namun disela pembicaraannya lagi-lagi Vina bertanya soal Ihsan.
“ Yas, mau cerita nih. Bolehkan?” Pinta Vina.
“ Ya bolehlah, apa sih yang engga. Pasti soal Ihsan kan?” filling sahabatnya.
            Suasana hening sejenak. Sambil tersipu malu Vina menjelaskan tentang perasaannya bahwa semenjak pertama kali Vina bertemu dengan Ihsan di Cisarua ia sudah suka pada Ihsan dan sudah menyimpan perasaannya dari dulu.
“ Kalau kamu suka sama Ihsan tenang aja, nanti aku bilangin deh.” Ucap Yasmin.
“ Eh, jangan dong.” Jawab Vina dengan singkat.
“ Lho kenapa? Kamu kan suka sama Ihsan.” Jelas Yasmin.
“ Ya, tapi takutnya kalau dibilangin pasti dia jauhin aku deh. Bisa-bisa dia juga sebel sama aku.” Jawab Vina. “Pokoknya jangan dibilangin yah. Bisa-bisa malah mengganggu konsentrasi belajarnya disana.” Lanjutnya. “ Tak apalah aku menyimpan perasaan ini sendirian.” Ucapnya pelan.
“ Apa?” Tanya Yasmin karena kurang mendengar ucapan Vina tadi.
“ Engga kok. Udah lanjutin cerita Yasmin aja. Tidak pentinglah cerita aku mah.” Lanjut Vina.
Mereka pun melanjutkan kembali bercerita tentang pengalaman Yasmin selama di Cisarua.
 Mungkin pertemuan Vina dan Ihsan dulu hanya menjadi sebuah kenangan. Walaupun sampai saat ini ia masih menyimpan perasaanya. Perasaan Vina hanya bisa dipendam dalam hatinya menjadi sebuah rasa yang tertiggal karena entah kapan lagi Vina bisa bertemu dengannya .Tapi Vina yakin jika ia berjodoh dengan Ihsan pasti suatu saat Vina akan berjumpa kembali dengan sang pujaan hatinya.